Postmodern the Fun way

POSTMODERNISME UNTUK PEMULA, CAPE DEH!

Oleh Raksa P. Ibrahim

“Gila gue makin bingung sama postmodern, apa sih maksudnya?
Meruntuhkan suatu narasi, dan membiarkannya berserakan…” Hal
inilah yang terlintas dipikiran saya ketika kuliah Teori dan
Metodologi Hubungan Internasional 2. Dalam perkuliahan yang dihadiri
banyak peserta bukan saja dari jurusan Hubungan Internasional, dengan
seksama para peserta memperhatikan pemaparan yang dilakukan sang
dosen. Antusiasme mereka sangat tergambar dari raut wajah mereka yang
kebingungan, hanya segelintir orang yang tampak menikmatinya.

Meski tidak sedikit orang yang mengetahui tokoh-tokoh yang dimasukan
ke dalam pemikir postmodern: Jacques Derrida, Michel Foucault,
Jean-François Lyotard, dan Jean Baudrillard. Memahami
postmodernisme bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan dalam
semalam atau bahkan dalam satu semester mata kuliah teori. Dibutuhkan
perenungan, pembacaan teks, dan peraasaan yang dilakukan
berulang-ulang. Namun untuk mencoba melihatnya secara ringan kita
dapat melakukannya dengan berbagai cara. Salah
satunya melalui  novel misteri Terbunuhnya Seorang Professor Posmo
dari Arthur Asa Berger.

Dalam kesempatan ini saya akan mencoba membedah
novel misteri ini untuk membantu kita melihat bagaimana
postmodernisme dipahami dan digunakan secara praktis dalam beberapa
kesempatan lewat novel ini. Selanjutnya semoga kita dapat mencium,
merasakan, dan menikmati kehidupan yang telah melewati fase modern
(katanya) karena pembedahan ini tidak akan saya jahit kembali
layaknya pembedahan pada umumnya.

Dibalik sebuah judul

Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo merupakan terjemahan dari judul
aslinya Postmortem For A Postmodernist. Novel ini merupakan karya
dari Arthur Asa Berger seorang yang ramah, humoris, dan mendalami
American cultural studies.  Ia berusaha untuk memberikan
pengetahuan yang ia miliki melalui karya-karyanya yang ringan dan
mudah untuk dipahami, sangat cocok sebagai sebuah pengantar.

Untuk memahami postmodern dari buku ini dapat dimulai dari judulnya,
Postmortem For A Postmodernist. Postmortem berarti suatu diskusi
setelah suatu kejadian terjadi atau singkatnya setelah kematian
(after death). Cerita dalam novel ini diawali dengan
terbunuhnya seorang professor postmodern Ettore Gnocchi dengan empat
cara yang berbeda dalam suatu jamuan makan malam. Setelah
sebelumnya ia sedang mempersiapkan seminar besar mengenai
posmodernist di kampusnya. Untuk menemukan pembunuhnya kita dituntun
untuk menyelami pemikiran-pemikiran postmodern lewat tokoh-tokoh di
dalam novel tersebut.

Lalu mengapa harus mendiskusikan dan mencari
sesuatu setelah hal tersebut tiada. Dan apa hubungannya dengan
postmodern. Sebagaimana yang dikatakan Baudrillard postmodern dimulai
saat sesuatu sudah tidak ada atau runtuh. Di masa setelah
kematian/peruntuhan tersebutlah postmodernitas mulai bermain dengan
sisa-sisa dari apa yang mereka telah “bunuh” atau hancurkan.
Memasukan unsur postmodern dalam suatu novel misteri merupakan cara
yang menarik untuk membayar penasaran tentang bagaimana postmodern
digunakan dalam kesempatan tertentu. Sehingga perlu diketahui
postmodern bukan hanya berkutat pada teori.

Postmodernisme: apaan tuh?

Begitu banyak hal yang dapat dikatakan sebagai
postmodern, mencari suatu keajegan mengenai konsep ini adalah suatu
hal yang meragukan, konsep ini merupakan suatu contested concept
yang dapat berarti apa saja, kapan, dan dimana saja. Sebagaimana
secara lugas diungkapkan dalam novel ini,

“sepertinya tak ada seorang pun yang saling sepakat satu sama lain
tentang     apapun… Setiap orang diseputar meja itu, yang semua
posmodernis menceritakan kisah yang berbeda.” (Berger:83: 2006).

Sangat jarang kita dapat mencari keterkaitan antar satu pemikir
postmodern dengan yang lain. Kita dapat melihat pemikiran Derrida
mengenai dekonstruksi yang memberikan kebebasan penuh terhadap
pembaca untuk mengartikan teks yang dia baca, dalam bahasanya
interpretation of interpretation. Berbeda dengan Derrida,
Foucault menggagas mengenai  power knowledge yang meruntuhkan
dan menguak hubungan pengetahuan dengan kekusaan vis a vis.

Hal tersebut terjadi karena pemahaman kita yang
masih terbatas mengenai postmodern. Contoh diatas hanyalah postmodern
dalam bagian yang tidak utuh.
Postmodern sebagai
postmodernisme adalah empat hal pada satu waktu yang bersamaan
(Berger: 32: 2006).
Hal tersebut antara lain, (1) urutan pergerakan historis dari Perang
Dunia II hingga saat ini; (2) bentuk multinasional dari kapitalisme
mutakhir; (3) gerakan seni rupa, arsitektur, sinema, musik pop; (4)
teoritisasi penulisan postpositivis yang interpretatif dan kritis.
Postmodern berusaha hadir ke tengah-tengah kita
karena penentangannya atas modernitas hal ini diyakini dikarenakan
sesungguhnya masyarakat saat ini telah melewati fase modern dengan
representasi-representasi pengganti yang sungguh-sungguh dihayati.

Postmodern mempertontonkan suatu bentuk kejahilan,
keisengan, dan ekletisisme baru yang terwujud dalam banyak karya
maupun pemikiran. Dimana semua usahanya ditujukan untuk melabrak
batas-batas logika modern untuk diganti dengan ironi, kolase,
sinisme, komersialisme, dan nihilisme.
3
Bagi saya postmodernisme merupakan suatu “kecemasan” di tengah
dunia yang gila dalam artian untuk menggugat, mengkritik, dan
menikmati dunia baru yang mereka ciptakan sendiri.

Temukan postmodernisme di sekitar kita

Permulaan dari postmodernisme berawal dengan hilangnya keyakinan
terhadap mimpi modernisme. Modernisme adalah cara pandang yang muncul
selama masa pencerahan, keyakinan terhadap ilmu dan metodologi dapat
menjelaskan berbagai hal menyangkut kehidupan manusia. Ditandai dengan ketidakpercayaan terhadap metanarasi dalam banyak
bidang keilmuan dan kehidupan manusia. Metanarasi secara etimologi
adalah suatu narasi  mengenai narasi atau latar belakang citra-dunia,
berdasarkan klaim atau keyakinan tertentu yang dibenarkan dan diberi
nilai untuk dilegitimasi atau ditolak.

Lalu, bila demikian apa saja yang dapat menjadi
ciri dari Postmodernisme dalam keseharian. Dalam novel ini terdapat
beberapa hal atau kegiatan yang termasuk ke dalam postmodern:

  • cara menonton televisi dengan mengganti saluran dengan remote.

  • perselingkuhan sebagai penentangan terhadap institusi yang mengikat.

  • film yang penuturannya bersifat story telling.

  • (demam) belanja (shopping) yang kehilangan fungsi utamanya.

  • melakukan kegiatan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan atau
    multitask activities; misal membaca koran sambil makan dan
    menonton TV.

  • lukisan-lukisan yang abstrak imajiner (dadaisme; surealisme), gambar
    yang telah di-retouch dengan corell atau adobe.

  • novel, karya sastra, cerpen yang tidak memiliki alur cerita linier
    atau ending yang ‘ngegantung’ dan minimalis.

  • keraguan atas otoritas dan krisis legitimasi, munculnya egoisme
    ekstrim yaitu individualisme.

  • munculnya gugatan tentang cinta yang penting adalah seks.

  • munculnya gugatan yang dianggap sebagai penyimpangan (gay, lesbian,
    agama, tuhan, dll).

  • lingkungan yang menghadirkan beton-beton setinggi langit disekitar
    pemukiman kumuh dan sisa masa lalu.

Sadarkah kita tentang apa yang sedang terjadi saat ini, pernakah kita
memikirkannya hingga saat ini, atau kita sudah menjalaninya namun
membiarkannya berjalan seakan hal tersebut sifatnya given.

Penggunaan postmodernisme

Pada awalnya oleh penerbit Berger diminta untuk membuat komik tentang
postmodernisme. Namun ia menemukan hal tersebut
terlalu sempit tidak bisa dijelajahi secara luas, sehingga ia
memiliki ide untuk membuat suatu novel misteri. Dengan tetap
menyertakan ilustrasi di setiap bab dalam novel ini.

Alasan Berger memasukan posmodernisme dalam
novelnya tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai professor
American Cultural Studies serta media dan komunikasi. American
Cultural Studies memiliki pengaruh yang besar dari pemikiran
postmodernisme, salah satunya Lyotard (pemikiran Lyotard muncul lebih
dari tiga kali dalam novel ini). Dalam hal ini postmodernisme
digunakan Berger untuk membantu dalam melihat perkembangan gaya hidup
yang terjadi di Amerika Serikat. Dimana masyarakatnya mulai clueless
tentang diri dan kehidupan mereka atau lebih tepatnya tidak peduli.
Terutama dengan segala kaitannya dengan kekuasaan yang menekan dan
menindas.

Dalam novel ini Berger mencoba memasukan beberapa
pendapat penting mengenai postmodernisme guna memperkenalkan dan
menambah pengetahuan mengenai postmodernisme. Melalui cerita yang
berjenis misteri menambah daya tarik bagi novel ini. Selain itu novel
ini lebih mudah untuk dipahami dibandingkan dengan teks-teks mengenai
postmodernisme, sebut saja “Of Gramatology-nya Derrida.
Buku
dari Derrida membutuhkan waktu yang lama untuk memahaminya

Lebih lanjut, dalam menuturkan cerita misteri ini kita terus
menjelajahi pemikiran-pemikiran postmodernisme lewat tokoh-tokohnya
yang terus dipaparkan sepanjang cerita demi menjawab misteri kematian
yang terjadi. Tidak lupa diselingi dengan humor-humor kritis cerdas
yang menyindir dan sarkastik. Misal, “perkawinan itu modernis,
selingkuh itu posmodern” dan “seks telah menjadi tuntutan hormon
dan biologis…cuma tubuh-tubuh telanjang yang saling bergesekan”,
tentunya terdapat humor lain, namun hal tersebut tergantung pada
selera kita masing-masing.

Postmodernisme dapat digunakan dalam suatu hal dan kegiatan tertentu
terutama bila berkaitan dengan gugatan terhadap modernitas dan
keraguan akan kehidupan yang dijalani. Untuk menemukan dunia yang
dibuat oleh pemikirannya di sisa-sisa reruntuhan modernisme. Pada
hakikatnya postmodernisme adalah  masalah bertahan hidup di antara
sisa-sisa reruntuhan.
6
Menurut saya yang perlu kita ketahui saat ini bahwasanya
posmodernisme tidak hanya berkutat pada sisi teoritisnya saja,
terdapat lingkup lain dari posmodernisme yang dapat kita jelajahi dan
nikmati atau tanpa kita sadari sudah kita lakukan atau kita bisa saja
telah melihatnya.

Diantara penolakan terhadap metanarasi, ideologi, dan novel

Sebagaimana yang tertuang diatas bahwa posmodernisme menolak adanya
metanarasi. Namun dalam novel misteri ini narasi mengenai
postmodernisme dicoba untuk dibangun seiring kita membaca novel ini.
Walau masih dalam taraf perkenalan. Yang menarik adalah apa yang akan
terjadi bila postmodernisme menempatkan dirinya dalam narasi agung
yang lain? Barbarisme mungkin (nebak doang).

Lebih lanjut secara ideologis baik pengarang
maupun novel ini berusaha untuk memberikan kesadaran mengenai apa
yang terjadi terutama untuk menemukan formulasi yang tepat dalam
suatu wilayah dengan bermacam latar budaya untuk membentuk budaya dan
gaya hidup yang terpengaruh budaya asal namun dengan cita rasa yang
berbeda. Selain itu novel ini juga mempertanyakan sikap kita dalam
menanggapi hal yang terjadi saat ini. Menurut saya ada tiga pilihan:
(1) mempertahankan kapitalisme; (2) bermain-main di sisa reruntuhan
modernisme; dan (3) memperjuangkan emansipasi melalui aksi secara
bertahap dan berkelanjutan.

Meski hal tersebut tidak disadari oleh pengarangnya sendiri, karena
menurutnya ketika seorang pengarang menulis karyanya hal lain yang
tidak berkaitan akan menghilang entah kemana, “books disappeared
into the void.
7
Ia hanya mencoba untuk bersenang-senang dengan memasukan psikoanalis,
Marxist, semiotika, dan postmodernisme. Disertai beberapa humor dari
pertengahan hingga akhir.

Tentu saja novel misteri ini sangat mudah untuk dibaca serta tidak
terlalu sulit untuk dipahami. Pada kenyataannya pengarangnya bukan
tokoh postmodernisme, sehingga adalah lumrah bila karyanya bisa lebih
tersosialisasikan. Salah satu masalah mengenai postmodernisme adalah
kuranganya pemahaman atas pemikiran dari para prominen postmodernime,
terlebih mereka tidak tertarik tentang hal tersebut.

Penutup

Postmodernisme telah lama menjadi suatu kebingungan dalam setiap
kesempatan diskusi yang telah menjadi buah bibir. Kebingungan yang
tidak surut ini perlu untuk diluruskan sehingga dapat sedikit
terobati kebingungannya. Novel misteri “Terbunuhnya Seorang
Profesor Posmo” merupakan suatu pengantar mengenai postmodernisme
yang bersifat multi-perspektif untuk mengenal postmodernisme, kritik,
dan bantahannya mengenai beberapa hal menyangkut modernisme.

Novel ini tidak terlalu berat untuk dicerna sehingga membacanya tidak
akan memakan waktu yang lama. Walau bukan karya peraih Pulitzer namun
usaha yang diberikan patut untuk diapresiasikan, terutama atas ide
dan terobosan, serta upaya untuk menambah wawasan kita. Pada akhirnya
ini hanyalah suatu novel.

Terakhir, disertai dengan salam dari Arthur Asa Berger: “good luck
with your studies and send my best to your friends who are also
reading the book.” Maka sebagaimana yang saya katakan pembedahan
ini tidak dan belum akan dijahit (ditutup), kita dapat memulai
diagnosis (diskusi) lanjutan mengenai hal ini dengan pertanyaan untuk
diskusi:

  1. Menurut teman-teman apakah postmodernisme itu?

  2. Pernahkah teman-teman menemukan fenomena postmodernisme dalam
    keseharian?

  3. Bagaimana pendapat teman-teman mengenai novel ini, adakah novel
    dengan ciri yang serupa atau kurang lebih sama?


FYI: Disampaikam
pada Bedah Buku “Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo ” Kerjasama
Dept.Kajian HIMA HI dan SAINS. Rabu 18 April 2007, FISIP UNPAD,
Jatinangor.

3 Responses to “Postmodern the Fun way”

  1. Mina Says:

    he he he…
    gak ngerti

  2. herry Says:

    proses bagaimana peradaban ini dibentuk berdasarkan kesadaran dan bukan doktrin.
    Dari pertanyaan yang terlontar ini dapat memberikan arti yang implisit,apakah gerakan postmodern ini, akan mengarah ke etika dan moral atau malah akan menguatkan kepercayaan2 yang trasendental?
    Reply….

  3. Yuni Says:

    Seru…seru…seru… Mau tahu lebih banyak lagi….

Leave a Reply